Sabtu, 24 Desember 2016

Karya Ilmiah Kerangka Karya Ilmiah

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya. Sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini.
Kami telah menyusun makalah ini dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Namun tentunya sebagai manusia biasa tidak luput dari kesalahan dan kekurangan. Harapan kami, semoga bisa menjadi koreksi di masa mendatang agar lebih baik lagi dari sebelumnya.
Tak lupa ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Dosen Pembimbing atas bimbingan, dorongan dan ilmu yang telah diberikan kepada kami. Sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya dan insya Allah sesuai yang kami harapkan. Dan kami ucapkan terimakasih pula kepada rekan-rekan dan semua pihak yang terkait dalam penyusunan makalah ini.
Mudah-mudahan makalah ini bisa memberikan sumbang pemikiran sekaligus pengetahuan bagi kita semuanya. Amin.

                                                                              Muara Bulian, 08 Oktober 2016

                                                                        Penyusun



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................. i   
DAFTAR ISI................................................................................................ ii  
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang................................................................................... 1  
B.     Rumusan Masalah.............................................................................. 1  
C.     Tujuan ................................................................................................ 2  
BAB II  PEMBAHASAN
A.    Pengertian Karya Ilmiah..................................................................... 3  
B.     Penggunaan Ragam Ilmiah................................................................. 3  
C.     Asas-asas Penyusunan Gagasan dalam Karya Ilmiah........................ 4  
D.    Teknik Mengatur Perwajahan Karangan............................................ 6  
E.     Aspek Penalaran dalam Karya Ilmiah................................................ 8  
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan......................................................................................... 11
B.     Saran .................................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA







BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Karya ilmiah merupakan hasil tulisan yang menuruti suatu aturan tertentu. Aturan tersebut  biasanya merupakan suatu persyaratan tata tulis yang telah dilakukan oleh masyarakat akademik. Secara umum, proses penulisan karya ilmiah dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu: tahap prapenulisan, tahap penulisan, dan tahap perbaikan.
 Sebagai hasil penelitian atau kegiatan ilmiah setiap karangan ilmiah mengandung komponen adanya masalah yang menjadi topik karangan ilmiah itu. Adanya tujuan penelitian, metode penelitian, teori yang dianut, objek penelitian, instrumen yang digunakan, dan adanya hasil penelitian yang diperoleh. Setelah kaidah ditemukan dan dirumuskan, kegiatan penelitian harus diwujudkan dalam bentuk laporan.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pengertian karya ilmiah?
2.      Bagaimana penggunaan ragam ilmiah?
3.      Bagaimana asas-asas penyusunan gagasan dalam karya ilmiah?
4.      Bagaimana teknik mengatur perwajahan karangan?
5.      Bagaimana aspek penalaran dalam karangan ilmiah?
C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui dan memahami pengertian karya ilmiah.
2.      Untuk mengetahui dan memahami penggunaan ragam ilmiah.
3.      Untuk mengetahui dan memahami asas-asas penyusunan gagasan dalam karya ilmiah.
4.      Untuk mengetahui dan memahami teknik mengatur perwajahan karangan.
5.      Untuk mengetahui dan memahami aspek penalaran dalam karangan ilmiah.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Karya Ilmiah
Karya ilmiah merupakan karya tulis yang menyajikan gagasan, deskripsi atau pemecahan masalah secara sistematis, objektif dan jujur, dengan menggunakan bahasa baku, serta didukung oleh fakta, teori atau bukti-bukti empirik. Karya ilmiah merupakan karya tulis yang isinya berusaha memaparkan suatu pembahasan secara ilmiah yang dilakukan oleh seorang penulis atau peneliti.[1]
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa karya ilmiah adalah laporan tertulis dan dipublikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.[2]

B.     Penggunaan Ragam Ilmiah
Penulisan karya ilmiah hendaknya menggunakan bahasa yang jelas, tepat, formal dan lugas. Kejelasan dan ketepatan isi dapat diwujudkan dengan menggunakan kata dan istilah yang jelas, tepat, tidak berbelit-belit dan struktur paragraf yang runtut.
Kelugasan dan keformalan gaya bahasa diwujudkan dengan menggunakan kalimat pasif, kata-kata yang tidak emotif dan tidak berbunga-bunga. Hindarilah penggunaan kata seperti saya atau kita. Jika terpaksa menyebutkan kegiatan yang dilakukan oleh penulis sendiri istilah yang dipakai bukan kami atau saya, melainkan penulis atau peneliti. Namun, istilah penulis atau peneliti hendaknya digunakan seminimal mungkin.
Skripsi yang mengikuti paradigma positivistik wajib ditulis dengan ragam bahasa ilmiah, tidak menggunakan ragam bahasa sastra, orasi, daerah, pasar, populer dan sejenisnya. Dalam ragam bahasa ilmiah positivistik berlaku ketentuan-ketentuan antara lain: baku, logis, terukur, tepat, denotatif, efektif, terjalin kesinambungan urutan serta bahasa yang baik dan benar.[3]

C.    Asas-asas Penyusunan Gagasan dalam Karya Ilmiah
1.      Kejelasan (clarity)
Karangan ilmiah harus konkret dan jelas. Kejelasan itu  tidak saja berarti mudah dipahami, mudah dibaca, tetapi juga harus tidak memberi ruang untuk disalahtafsirkan, tidak  boleh bersifat sama-samar, kabur dan tidak boleh ada di wilayah abu-abu. Kejelasan di dalam karangan ilmiah itu ditopang oleh hal-hal berikut: 
a.         Pemakaian bentuk kebahasaan yang lebih dikenal daripada bentuk kebahasan yang masih harus dicari-cari dulu maknanya, bahkan oleh penulisnya.
b.        Pemakaian kata-kata yang pendek, ringkas, tajam, lugas, daripada kata-kata yang berbelit, panjang, rancu dan boros (verbose).
c.         Pemakaian kata-kata dalam bahasa sendiri daripada kata-kata dalam bahasa asing.
2.      Ketepatan (accuracy)
Karangan ilmiah menjujung tinggi keakuratan. Hasil penelitian ilmiah dan cara penyajian hasil penelitian itu haruslah tepat/akurat. Supaya karangan ilmiah menjadi sungguh-sungguh akurat, penulis/peneliti harus sangat cermat, teliti, tidak bleh sembrono, atau ‘main-main dengan ilmu’.
Dalam penyampaiannya di dalam karangan ilmiah itu harus terwadahi butir-butir gagasan dengan kecocokan sepenuhnya seperti  yang dimaksudkan oleh peneliti/penulisnya. Kualifikasi demikian itulah yang dimaksud dengan istilah ‘efektif-‘sangkil’.
3.      Keringkasan (brevity)
Karangan ilmiah haruslah ringkas. Ringkas tidak sama dengan pendek. Karangan yang tebalnya 500 halaman dapat dikatakan ringkas sejauh di dalamnya tidak terdapat bentuk-bentuk kebahasaan yang bertele-tele, kalimat-kalimat yang bertumpukan (running-on sentences), dan sarat dengan kemubaziran dan kerancuan.
Jadi, karya ilmiah itu tidak boleh menghamburkan kata-kata, tidak boleh mengulang-ulang ide yang telah diungkapakan, dan tidak berputar-putar dalam mengungkapkan maksud atau gagasan. Karangan ilmiah harus dibangun dari ide yang kaya dengan bahasa yang hemat dan sederhana. Jadi bukan sebaliknya, ide yang miskin namun dengan bahasa berbunga-bunga.
Karangan ilmiah harus ditulis dengan hati dan diteliti kembali, dibenahi dan diedit kembali dengan pikiran.
D.    Teknik Mengatur Perwajahan Karangan
Yang dimaksud dengan perwajahan adalah tata letak (lay out) unsur-unsur skripsi serta aturan penulisan unsur-unsur tersebut, yang berkaitan dengan segi keindahan dan estetika naskah. Tata letak dan penulisan unsur-unsur skripsi, tesis, atau disertasi harus diusahakan sabaik-baiknya agar skripsi, tesis, atau disertasi tersebut tampak rapi dan menarik. Dalam pembicaraan tentang perwajahan, dikemukakan secara ringkas mengenai masalah kertas pola ukuran dan penomoran.
1.      Kertas Pola Ukuran
Supaya tiap halaman ketikan  rapi, sebaiknya digunakan kertas pola ukuran. Kertas pola ukuran tersebut dipasang setiap kali mengganti halaman dan kertas pola ukuran itu harus ditaati agar hasil ketikan tampak rapi. Jika menggunakan komputer, program-program tertentu harus dikuasai terlebih dahulu agar format yang dikehendaki terwujud.
Pada umumnya garis pembatas pada kertas pola ukuran tersebut diatur dengan ukuran sebagai berikut:
a)        Pias (margin) atas 4 cm,
b)        Pias bawah 3 cm,
c)        Pias kiri 4 cm, dan
d)       Pias kanan 3 cm.
2.      Penomoran
a)      Angka yang digunakan
Angka untuk nomor yang lazim digunakan dalam skripsi, tesis, disertasi, atau karangan ilmiah umumnya adalah angka Romawi kecil, angka Romawi besar, dan angka Arab. Angka Romawi kecil (i, ii, iii, iv, v) dipakai untuk menomori halaman judul, halaman yang bertajuk prakata, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, daftar lampiran, dan daftar lain (jika ada). Angka Romawi besar (I, II, III, IV, V) digunakan untuk menomori tajuk bab pendahuluan, tajuk bab analisis, tajuk bab simpulan, misalnya BAB I PENDAHULUAN. Angka Arab (1, 2, 3, 4, dan seterusnya) digunakan untuk menomori halaman-halaman naskah mulai bab pendahuluan sampai dengan halaman terakhir dan untuk menomori nama-nama tabel, grafik, histogram, bagan, dan skema.
b)      Letak Penomoran
Halaman judul, daftar isi, daftar tabel, daftar grafik, daftar lampiran, menggunakan angka Romawi kecil yang diletakkan pada bagian bawah, tepat di tengah-tengah (simetris). Halaman yang bertajuk bab pendahuluan, bab analisis, bab simpulan, daftar pustaka/rujukan, indeks, dan lampiran, menggunakan angka Arab yang diletakkan pada bagian bawah, tepat di tengah-tengah (simetris). Halaman-halaman naskah lanjutan menggunakan angka Arab yang diletakkan pada bagian kanan atas.
c)      Penomoran Subbab
Subbab dan subsubbab dinomori dengan angka Arab sistem digital. Angka terakhir dalam digital ini tidak diberi titik (seperti 1.1, 1.2, 2.1, 1.1.2, 2.2.3, 3.2.1, dan seterusnya). Dalam hubungan ini, angka digital tidak lebih dari tiga angka (maksimal, misalnya 1.1.1, 1.4.3, 1.1.2, 3.2.2, 3.3.3, 4.4.1), sedangkan penomoran selanjutnya menggunakan a, b, c, kemudian 1), 2), 3), selanjutnya a), b), c), dan seterusnya.[4]
Artikel berbentuk feature dapat lebih dinikmati, kalau artikel tersebut diberi ilustrasi. Lebih-lebih bila isinya mengenai sesuatu keilmuan atau petunjuk teknis. Informasi akan menjenuhkan bila diungkapkan dengan kata, karena bertele-tele, lebih baik disajikan berupa gambar ilustrasi.
Ilustrasi memang gambar, tetapi tidak hanya gambar tangan yang dibuat dengan pensil, ballpen atau tinta Cina saja, melainkan dapat juga berupa foto jepretan lensa, gambar pandangan pancungan, peta, denah, bagan dan diagram.[5]
E.     Aspek Penalaran dalam Karya Ilmiah
Suatu karangan sesederhana apapun akan mencerminkan kualitas penalaran seseorang. Penalaran itu akan tampak dalam pola pikir penyusuan karangan itu sendiri. Penalaran dalam suatu karangan ilmiah mencakup 5 aspek. Kelima aspek tersebut adalah:
1.    Aspek Keterkaitan
Aspek keterkaitan adalah hubungan antar bagian yang satu dengan yang lain dalam suatu karangan. Artinya, bagian-bagian dalam karangan ilmiah harus berkaitan satu sama lain. Pada pendahuluan misalnya, antara latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan  dan manfaat harus berkaitan. Rumusan masalah juga harus berkaitan dengan bagian landasan teori, pembahasan, dan harus berkaitan juga dengan kesimpulan.
2.    Aspek Urutan
Aspek urutan adalah pola urutan tentang suatu yang harus didahulukan atau ditampilkan kemudian (dari hal yang paling mendasar ke hal yang bersifat pengembangan). Suatu karangan ilmiah harus mengikuti urutan pola pikir tertentu. Pada bagian Pendahuluan, dipaparkan dasar-dasar berpikir secara umum. Landasan teori merupakan paparan kerangka analisis yang akan dipakai untuk membahas. Baru setelah itu persoalan dibahas secara detail dan lengkap. Di akhir pembahasan disajikan kesimpulan atas pembahasan sekaligus sebagai penutup karangan ilmiah.
3.    Aspek Argumentasi
Yaitu bagaimana hubungan bagian yang menyatakan fakta, analisis terhadap fakta, pembuktian suatu pernyataan, dan kesimpulan dari hal yang telah dibuktikan. Hampir sebagian besar isi karangan ilmiah menyajikan argumen-argumen mengapa masalah tersebut perlu dibahas (pendahuluan), pendapat-pendapat atau temuan-temuan dalam analisis harus memuat argumen-argumen yang lengkap dan mendalam.
4.    Aspek Teknik Penyusunan
Yaitu bagaimana pola penyusunan yang dipakai, apakah digunakan secara konsisten. Karangan ilmiah harus disusun dengan pola penyusunan tertentu, dan teknik ini bersifat baku dan universal. Untuk itu pemahaman terhadap teknik penyusunan karangan ilmiah merupakan syarat multak yang harus dipenuhi jika orang akan menyusun karangan ilmiah.
5.    Aspek Bahasa
Yaitu bagaimana penggunaan bahasa dalam karangan tersebut? baik dan benar, Baku. Karangan ilmiah disusun dengan bahasa yang baik, benar dan ilmiah. Penggunaan bahasa yang tidak tepat justru akan mengurangi kadar keilmiahan suatu karya sastra lebih-lebih untuk karangan ilmiah akademis.[6]










BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Karya ilmiah adalah laporan tertulis dan dipublikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.
2.      Penulisan karya ilmiah hendaknya menggunakan bahasa yang jelas, tepat, formal dan lugas dengan menggunakan kata dan istilah yang jelas dan tepat, kalimat yang tidak berbelit-belit dan struktur paragraf yang runtut.
3.      Asas-asas penyusunan gagasan dalam karya ilmiah meliputi kejelasan, ketepatan dan keringkasan.
4.      Yang dimaksud dengan perwajahan adalah tata letak (lay out) yang berkaitan dengan segi keindahan dan estetika naskah. Dalam hal ini dikemukakan secara ringkas mengenai masalah kertas pola ukuran dan penomoran.
5.      Aspek-aspek penalaran dalam karya ilmiah meliputi aspek keterikatan, urutan, argumentasi, teknik penyusunan dan aspek bahasa.
B.     Saran
Dengan diselesaikannya makalah ini penulis berharap makalah ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan pembaca. Selanjutnya penulis juga  mengharapkan kritik dan saran guna peningkatan kualitas dalam penulisan makalah ini.




DAFTAR PUSTAKA

Dalman. Menulis Karya Ilmiah. Jakarta: Rajawali Pers, 2012.
Fauzi, Asep. “Penulisan Karya Ilmiah”. (http://asep-fauzi.blogspot.com/2011/12/makalah-tentang-penulisan-karya-ilmiah.html, diakses tanggal 20 November 2014).
Hartono. Bagaimana Menulis Tesis. Malang: UMM Press, 2009.
Mujianto, Gigit. Bahasa Indonesia. Malang: UMM Press, 2010.
Nurita.Konsep Penalaran Ilmiah dalam Penulisan Ilmiah”. (http://nurii-thaa.blogspot.com/2014/03/konsep-penalaran-ilmiah-dalam-penulisan.html, diakses tanggal 18 November  2014).
Rahardi, Kunjana. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Erlangga, 2009.
Revisi, Tim. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Kediri: Stain Press, 2009.
Soeseno, Slamet. Teknik Penulisan Imliah Populer. Jakarta: Gramedia, 1984.





[1] Dalman, Menulis Karya Ilmiah (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), 5.
[2] Ibid., 9.
[3] Tim Revisi, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Kediri: Stain Press, 2009), 16-17.
[4] Asep Fauzi, “Penulisan Karya Ilmiah”, http://asep-fauzi.blogspot.com/2011/12/makalah-tentang-penulisan-karya-ilmiah.html, diakses tanggal 20 November 2014.
[5] Slamet Soeseno, Teknik Penulisan Imliah Populer (Jakarta: Gramedia, 1984), 90.
[6] Nurita,Konsep Penalaran Ilmiah dalam Penulisan Ilmiah”,  http://nurii-thaa.blogspot.com/2014/03/konsep-penalaran-ilmiah-dalam-penulisan.html, diakses tanggal 18 November  2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar